Jumat, 30 Oktober 2015

My poem 4 : sahabat

Derasnya hujan
Mengguyur langit malam
Ku berjalan tanpa semangat
Menginjak genangan tanpa semangat
         
          Awan tak kunjung menghilang
         Dingin tak kunjung menyerah
         Hujan tak kunjung berhenti
         Kapan cuaca kan membaik?

Ketika ku mengadah
Ku melihat
Payung merah muda menaungiku
Melindungiku dari derasnya hujan

Rabu, 07 Oktober 2015

My poem 5 : hanya tinggal kenangan

ku melamun
di tengah hujan
menatap gumpalan awan
mengingat sebuah kenangan

 langit yang membiru
 membuatku teringat masa lalu
 ketika ku bermain bersama sahabatku
 dinaungi awan yang biru

kami berlari tak kenal lelah
kami tertawa bersama - sama
memandangi luasnya dunia
dan semua keindahanya

Senin, 31 Agustus 2015

My poem 6 : Alam Yang Indah

Langit yang cerah  
surya yang bersinar
berkilau menerangi seisi dunia
rumput melambai tertiup angin
alam menebarkan pesonanya

Tahukah kau kawan?
dibalik permukaannya 
danau menyimpan banyak rahasia
Di danau yang tenang
Di danau yang licin selicin kaca
Jaud di bawah sana
ikan berwarna warni berenang riang gembira
seperti sekelompok pelangi yang hidup

Minggu, 30 Agustus 2015

How to train the dragon

Hai....... lama tak jumpa. Tapi sekarang aku mau cerita tentang film How to train The dragon. Kalian ada yag pernah lihat filmnya? aku pernah

ceritanya tentang sebuah desa bernama Berk. Di desa Berk, banyak berkeliaran naga naga penyembur api,listrik, dan gas beracun. Kepala suku Berk, Stoick mempunyai seorang anak bernama Hiccup. Hiccup pernah menembak naga jenis Night Fury. Di Berk, Night Fury adalah jenis naga yang paling ditakuti. Hiccup menembak Night Fury dengan meriam jaring. Sehari atau mungkin dua - tiga hari setelah tempur, Hiccup pergi ke gunung, di sana dia melihat sebuah batang pohon yang patah dan jejak memanjang di tanah, Hiccup mengikuti jejak itu dan dia melihat sosok hitam besar.  Hiccup mendekati sosok itu dan dia melihat Naga!. Seekor Night fury, jenis yang paling ditakuti sedang tertidur. Hiccup mengeluarkan pisaunya dan naga itu terbangun. Hiccup memotong tali jaring yang menjeratnya. Naga itu maju. Lalu terbang ke udara. Hiccup melihat keanehan dalam cara terbang naga itu. Dia melihat lebih seksama dan melihat bahwa ekor naga itu cuma satu. Dia pun membuat ekor palsu dari kuit. Pada suatu hari, ketika ia latihan bertarung, Hiccup tidak menggunakan perisai dan kapak seperti yang lain. Dia menggunakan rumput untuk mengalahkan naga itu. Sedikit demi sedikit, dia mengetahui tentang kebiasaan naga. Dia menjadi petarung ulung. Dia pun lebih terkenal daripada temannya, Astrid

Selasa, 23 Juni 2015

salamander hutan mangrove dan jalan setapak kayu

 Aku pernah ke hutan mangrove. Hutan mangrove adalah hutan kecil yang dipenuhi bakau. Di antara pohon  - pohon bakau banyak terdapat laba - laba raksasa sebesar ibu jari. Di hutan mangrove, terdapat jalan semacam jembatan dari kayu. Di bawah jembatan hanya ada lumpur. Kanan - kiri terdapat pohon bakau. Namun sering kali terlihat sungai berwarna coklat muda. Biasanya, aku sering menengok samping jembatan mencari salamander dan kepiting bercapit satu. Indah sekali warna kepiting - kepiting itu. Jika kalian menyusuri jembatan kayu itu, kalian akan menemukan tempat peristirahatan kecil. Disampingnya terdapat pintu. Di belakang pintu itu ada tambak.

adventure in mermaid world (part 3)



                                Hutan Tortoiselia

Mereka sampai di sebuah hutan. Hutan Tortoiselia kata Nory. Mereka melanjutkan perjalanan hingga di tengah hutan. Di sana, mereka menemukan sesuatu yang menarik. “Kalian, lihat aku menemukan sesuatu!” panggil Rainblowra. Empat anak yang lain berenang ke tempat Rainblowra. Benda yang di maksud Rainblowra adalah sebuah batu berwarna pelangi. Batu itu mengeluarkan cahaya yang terang. Ketika Valonia bertanya nama batu itu, nory menjawab “Itu adalah Rainbow dust. Batu itu jika ditumbuk, serbuknya dapat membuat cahaya pelangi yang menyilaukan mata. Caranya lempar serbuk itu ke arah benda yang akan disilaukan. Cahayanya dapat diperkuat dengan cermin”. Rainblowra lalu mengantongi batu itu.  Ketika mereka menyiapkan tempat untuk bermalam, Thundera menemukan gua yang cukup luas. Mereka bermalam di situ. Keesokan harinya, mereka melanjutkan perjalanan. Di mana mana rumput laut yang tinggi saja yang nampak. “Sial rumput laut ini. Di mana – mana hanya ada benda ini.” keluh Thundera. Dia lalu menebas serumpun besar rumput laut dengan pedangnya. Suara tebasan pedang itu mengagetkan Nory. “Thunder, apa yang kau lakukan?” Tanyanya. “Maaf. Rumput laut ini membuatku kesal. Jadi aku potong saja” jawab yang ditanya. Setelah itu, rumput laut tersebut tiba tiba saja hilang. Pemandangan berganti  dengan bunga – bunga bulat berwarna merah dan buih – buih kuning. Tidak ada lagi rumput laut di kanan kiri mereka. Banyak siput laut merayap di bawah mereka. “Eugh, pemandangan ini membuatku mual” keluh Flowerina. Hari mulai gelap. Nory memutuskan bermalam di situ. “Tap-tapi, serangga ini menjijikkan sekali” protes Rainblowra. “Tidak ada tapi tapian!” ujar Nory. Rainblowra mengeluh “Baiklah, tapi cari tempat yang tidak ada serangganya ya”. Nory mengajak mereka bermalam di sebuah tempat yang terlindung Karang runcing. Nory menemukan sebuah tempat yang terbebas dari karang. Dari sana mereka masuk ke tempat itu. Tempat mereka bermalam terbuat dari goa yang dilapisi rumput laut. Bagian depannya terlindung oleh karang runcing yang terletak tidak beraturan. Mereka lalu tidur. Keesokan harinya, Valonia bangun dan melihat radar. Mereka sudah dekat dengan Galapagia. “Masih ada dua tempat yang harus kita lewati untuk sampai di Galapagia. Yaitu Tebing Marianova dan Gunung sluggy river” jelas Nory. Ketika mereka sampai di tepi sungai hutan Tortoiselia, Flowerina menemukan sepohon buah yang berbentuk seperti anggur berwarna merah menyala. “Apa ini?” tanya Flowerina. “Ini geronimo grape. Jika dilempar akan mengeluarkan asap tebal berwarna merah yang membuat pusing” jawab Nory. Flowerina mengambil dua tangkai geronimo grape. Mereka lalu beristirahat sejenak di sungai itu. Nory mengambil lima butir mutiara berwarna biru. “Wah, Singing Pearl. Indahnya” puji rainblowra. “Singing pearl, Mutiara bernyanyi?” gumam Valonia.  “Makan ini. Jika kalian memakan ini,  kalian dapat mengeluarkan gelombang suara yang besar jika kalian berteriak” perintah Nory. Masing – masing anak mengambil satu Singing Pearl dan memakannya. “ Tidak ada perubahan” kata Valonia. Nory tersenyum. “ Perubahannya tidak di tubuhmu tapi di suaramu”. “ Oh iya Nory, aku akan menumbuk Rainbow dustku di sini. Kebetulan aku membawa cermin pelangiku” ucap Rainblowra. “Ya tumbuk saja di sini. Kau membawa wadah? Kalau tidak gunakan daun mangkuk itu. Untuk menumbuk, aku membawa Diamond” jawab Nory. “ Aku juga akan mencampur Geronimo grape ini dan meriam melatiku. Kau ikut Thundera?”  ajak Flowerina. Thundera mengganguk. Mereka lalu pergi ke tempat yang banyak terdapat daun mangkuknya. Flowerina mengambil satu buah Geronimo Grape dan satu kuntum meriam melati. “Pertama, campur serbuk meriam melati dan serbuk Geronimo Grape. Aduk hingga rata. Ah warnanya jadi ungu” gumam Flowerina. Thundera memperhatikan dengan penuh minat. “Campur dengan yellow orchid” Katanya sambil melepas satu bunga anggrek kuning dari bandonya. Setelah itu, dia menumbuk bunga anggrek kuning itu dengan batu yang terdapat di situ. Serbuk yang semula berwarna ungu, berubah menjadi kuning. “Jadi juga, kelinci percobaanya siput itu saja” . Flowerina melemparkan segenggam serbuk kuning itu ke arah siput laut yang sedang melintas. Ajaib ! siput jadi menari. Mereka lalu kembali ke sungai. Di sana, Rainblowra juga sudah selesai menumbuk rainbow dustnya. “Mau lihat bagaimana hasilnya Flowerina?” tawar Rainblowra. Flowerina mengangguk. “Valonia cerminku !” cermin emas Rainblowra dihadapkan ke arah matahari oleh Valonia. Flowerina mundur beberapa langkah. Serbuk Rainbow dust dilempar ke cermin oleh Rainblowra. Cermin itu mengeluarkan pelangi yang amat terang dari bagian yang terkena rainbow dust. “cantiknya” puji Flowerina. “Bagaimana dengan milikmu?” tanya Rainblowra. Flowerina melempar serbuknya ke arah siput yang sedang lewat. Seperti tadi, siput itu juga menari. Semua tertawa melihat siput yang menari berputar putar.

Senin, 22 Juni 2015

wisata pacitan

 Dulu waktu ke pacitan aku pernah diajak abi sama pakde farid ke pantai Srau. Disana,aku bermain ombak pantai, dan mencari ubur ubur yang terangkat ke pasir. Pasir pantainya putih halus sekali. Pasirnya juga banyak. Di pantai ada banyak pohon yang dahan dan rantingnya simpang siur. Aku memanjat salah satunya dan berfoto. Asyik sekali. Lalu sebelum pulang aku dibelikan es degan

Selain ke pantai Srau, aku juga pernah ke pantai klayar. Aku bermain ombak sambil berlindung dengan batu karang yang besar. Bajuku jadi basah kuyup. Karena tidak membawa baju ganti, mama belikan aku baju baru. Sebelum pulang, Aku memanjat gunung. Asyik sekali pemandangan dari ketinggian. Laut yang biru dan ombak yang besar.






Aku juga pernah ke gua gong. Asyik sekali jalan jalan di gua. Bagian dalam gua gong indah sekali. Stalaktit dan stalakmitnya berkilauan. Banyak cekungan gua yang terisi air hingga menjadi danau. Di gua juga ada  lorong - lorong buntu. Tapi di dalam gua gelap. Untung aku bawa senter. Di dalam gua ada lampu yang menerangi stalaktit dan stalakmit. di dalam gua juga ada entah marmer atau pilar aku lupa.